C. After TFD
Beberapa waktu berlalu sejak turunnya lima pilar pertama. Perjalanan Faraki dan pilar lainnya terhenti beberapa bulan dikarenakan suatu alasan. Dalam kurun waktu itu pula lima pilar pertama yang diturunkan mendirikan suatu perserikatan bernama 'Oi Pylones' atau yang dikenal pada zaman sekarang sebagai "The Pillars".
Ketika waktu yang ditentukan bersama datang, Faraki dan pilar lainnya melanjutkan perjalanan mereka. Perjalanan yang akan merubah semesta beserta isinya.
D. The Second Descension (TSD)
I. Kompas Diri
Para pilar mengistirahatkan diri mereka selama dua musim disebuah pulau yang tampak asri walau tak berpenghuni. Bukan diundang, hanya saja kedatangan mereka semata-mata atas petunjuk sang pilar bertopi putih, Bautista. Rumput hijau yang terawat, terpotong dari sisi yang hampir sama. Sudah berapa kali Faraki mengitari pulau ini, seyakin-yakin nya ia jikalau pulau ini berpenghuni. Sayangnya, tidak ada tanda kehidupan. Setidaknya yang terlihat.
Hingga sampai pada saatnya, mereka sedang mencari bahan makanan untuk beberapa hari kedepan.
"Do you need a compass?"
(Apakah kamu membutuhkan kompas?)
Vargas tertegun melihat penampakan anak bersurai putih dengan mata jeruk didepannya, apalagi Aibana yang membawa tumpukan buah buahan ditangannya. Mengabaikan istilah istilah asing yang dilontarkan makhluk didepan mereka ini, berdasarkan bajunya, ia adalah seorang pilar. Vargas dan Aibana menjelaskan maksud kedatangan mereka ke pulau ini serta mengajak anak itu untuk bergabung dengan mereka.
"Woah! That's so cool! But, I can't leave my brother alone.."
(Woah! Itu keren sekali! Tapi, aku tidak bisa meninggalkan saudara lelaki ku sendiri..)
Aibana mengajaknya untuk membawa saudara lelakinya juga. Sebelumnya, Vargas menanyakan nama anak itu dan nama saudaranya. Ia hanya menggeleng dan terdiam. Merasa mengerti akan situasi yang dihadapi, Vargas dan Aibana segera mengantar anak bersurai putih itu untuk bertemu dengan saudaranya. Ternyata, sepasang saudara tersebut mendirikan markas sederhana dipojok pulau, tempat yang sangat jarang terjamah maupun dijangkau. Didalam markas itu terdapat banyak benda-benda asing dan barang yang terlihat seperti bekas eksperimen. Sang anak segera memanggil seseorang, yang dibalas dengan sambutan hangat dari sesosok anak kepala pirang.
Berdasarkan fisik, anak dengan rambut pirang sedikit lebih kurus dari pada saudaranya. Rambutnya panjang dan bergelombang, lagi-lagi terbalik dari saudaranya. Yang menarik Vargas dan Aibana saat melihat anak pirang ini ialah matanya, dan gerak geriknya dalam merasakan sekitarnya.
Karena matahari sudah mulai bersembunyi, sepasang saudara itu menawarkan untuk menginap di markas mereka untuk malam ini. Vargas dan Aibana setuju, hitung hitung bisa untuk lebih mengenali dua pilar baru yang diturunkan didepan mereka. Satu malam dihabiskannya oleh Vargas dan Aibana menginap, sudah saatnya mereka kembali ke markas para pilar dengan membawa sang saudara.
Sesampainya di markas, para pilar sudah menunggu, tidak dengan sambutan hangat tetapi dengan amarah dan lapar kepada Vargas dan Aibana. Tentu saja, bagaimana mereka bisa lupa kalau kemarin mereka ditugaskan untuk mencari bahan makanan. Mendengar kebisingan didepannya, anak bersurai pirang hanya tertawa kecil.
"Resources are everywhere, it is by ourself on how to process it."
(Sumber itu ada dimana-mana, hanya kita saja yang harus memprosesnya.)
Sang pirang mengambil dua batu didekatnya. Digesekkan kedua batu itu hingga percikan merah melompat. Setelah percikan itu berubah menjadi sang merah besar, anak itu mengeluarkan kertas biru yang entah darimana munculnya. Dengan cepat ia menggambar cetak biru kompleks diatasnya, dan dengan sentuhan terakhir dari tangannya, cetak biru itu menjadi kenyataan. Hasil dari cetak biru itu ialah kompor kecil, yang ia tuangkan minyak dan dedaunan disekitarnya untuk memasak. Para pilar yang melihat fenomena didepannya takjub sekaligus berterimakasih pada sang pirang.
Dengan kekuatan sepasang saudara itu, para pilar bisa membayangkan betapa banyaknya rintangan yang bisa mereka hadapi dengan mudah. Sembari memakan masakan bersama, Aibana berkata,
"Hey, white hair and blonde hair! Do you want a name? Me and my lovely friends has decided to give each of you one!"
(Hei, rambut putih dan rambut pirang! Apakah kalian ingin dinamai? Aku dan teman temanku yang tercinta telah memutuskan untuk memberikan kalian satu!)
"R-really?! We're finally getting a name!"
(B-benarkah?! Kita akhirnya mendapatkan nama!)
"Yes, names are one of the form of love too! You will be Weiss, and you will be Coastillon!"
(Ya, nama adalah salah satu dari bentuk cinta juga! Kau akan menjadi Weiss, dan dirimu akan menjadi Coastillon!)
"That's kind of you, Miss Aibana. Thank you on behalf of my brother and myself.."
(Nona Aibana baik sekali. Terimakasih atas nama saudara saya dan diri saya sendiri..)
II. Metanoia Kayu
Seiring waktu, bertambah banyak juga pilar yang bergabung. Para pilar sekarang mengayomi tujuh manusia dibawahnya. Faraki bertanya-tanya, sampai berapakah angka yang akan dicapai?
Lepas dari pulau di selatan, mereka melanjutkan perjalanan. Dengan adanya sepasang saudara, para pilar tidak perlu susah-susah merakit kapal dan segala tetek bengeknya. Dengan transportasi terpenuhi, mereka dengan mudah berpindah tempat ke tujuan selanjutnya.
Sesampai di tujuan yang dinavigasi oleh Coastillon, berpijaklah kaki mereka diatas tanah. Pohon tinggi menjulang disekitar, akar bersulur yang terlihat tidak ramah dan menolak kedatangan para pilar kerap ditemukan saat mereka berjalan. Walau begitu, mereka tetap teguh menyusuri hutan yang tidak terbatas ini.
Coastillon setelah menerawang, berkata bahwa ada dua kemungkinan jalan keluar dari sini, dan Faraki mengusungkan para pilar untuk berpencar. Mereka setuju dan bersimpang jalan masing-masing.
Aibana, Vargas, Liu, dan Weiss mengambil jalan tenggara.
Faraki, Bautista, dan Coastillon mengambil jalan barat daya.
Komplotan Faraki berjalan lebih cepat dikarenakan navigator handal yang ada di sisi mereka. Ketika memberi tanda pada jalan, Faraki dikejutkan oleh suara wanita dibelakangnya.
"Who disturbs the woods shall receive detention."
(Siapa yang mengganggu sang hutan akan mendapatkan penahanan.)
Wanita itu melepaskan tudungnya, terlihatlah matanya yang menyala biru bak air suci dan rambut panjangnya yang semerah delima. Ia memasang raut marah dan mengangkat tongkatnya didepan Faraki. Coastillon segera melindungi Faraki didepannya seraya memohon untuk dibebaskan. Coastillon mengatakan maksud dari kedatangan mereka dan berjanji bahwa para pilar tidak akan mengganggu ketenangan hutan. Disisi lain, Bautista yang memperhatikan wanita merah itu berjalan mendekatinya.
Coastillon berteriak kecil pada Bautista untuk tidak memprovokasi wanita itu, tetapi bagaikan kayu Bautista tidak tergoyahkan dan terus mendekati. Wanita itu melirik Bautista yang semakin dekat padanya. Wanita bertopi putih itupun berbicara pada lawannya. Secara mengejutkan, ia mendengarkan apa perkataan Bautista. Ia mendengarkan dengan saksama dan khidmat, layaknya sedang diberikan revelasi. Coastillon dan Faraki menyaksikan dalam diam diseberang, tak mengerti bagaimana bisa wanita asing itu memahami Bautista yang berbicara dalam angka.
Setelah beberapa waktu berlalu, wanita itu mengangguk dan menoleh kearah Faraki. Ia mengukirkan senyum tipis sejenak seraya berkata,
"The woods pities those who sought justice, we must prevail."
(Sang hutan mengasihani mereka yang mencari keadilan, kita harus berlanjut.)
Jauh dari ekspektasi Faraki, wanita ini dengan mudah berubah pikiran setelah dirayu-entah-bagaimana oleh Bautista. Wanita itu mendekati Faraki dan memasang wajah yang teduh.
"My given name is Quinns, that is all about it."
(Nama pemberianku adalah Quinns, itu saja.)
III. Sentuhan Midas
Dengan bergabungnya anggota ke delapan bersama para komplotan Faraki, mereka meninggalkan hutan tak terbatas itu. Bertemu di ujung jalan dengan pilar yang lainnya, Coastillon menjelaskan keadaan yang ditemui mereka di hutan sebelumnya. Pilar lain menyambut wanita surai merah itu dengan sukacita, yang hanya dibalas dengan senyum misterius dari sang empu.
Menuju ke selatan hutan itu, mereka tidak menyangka akan menemukan gurun pasir. Gurun itu bila dilihat dengan mata biasa, tidak berujung. Faraki mengetahui tempat ini. Setidaknya, dahulu saat berdagang ia sudah pernah melewati rute ini. Pria bermata darah itu menanyakan pendapat pilar yang lain, mungkin karena medan yang berat. Ia mengetahui bahwa bila mereka berjalan memutar sedikit, akan ditemui sebuah kota metropolis pada masanya. Dan semoga saja, bisa beristirahat disana.
Usungan Faraki dibalas dengan anggukan mantap oleh para pilar, dan mereka memberangkatkan diri kedalam kabut pasir.
Menuruti rute Faraki dan dengan sedikit bantuan yang lain, mereka dengan mudah menemukan jalan menuju kota metropolis yang digadang-gadangkan. Memasuki kota itu, para pilar disambut dengan kehidupan peradaban maju yang sudah lama tidak mereka lihat, atau tepatnya, baru pertama kali delapan orang itu lihat.
Pedagang demi pedagang menyerukan jualannya. Penampilan jalanan merias kota dengan gelak tawa maupun teriakan kagum. Manusia dari segala kalangan dengan pakaian yang berbeda lalu lalang, menambah keramaian kota ini. Jauh lebih ramai dari pada tempat asal Vargas, batin dirinya sendiri.
Para pilar menikmati waktu mereka di kota ini.
Faraki berbincang-bincang dengan rekan pedagangnya dahulu. Aibana dan Liu terlihat sedang berwisata kuliner. Vargas semenjak tadi hanya kesana kemari, mungkin ia mencari anggur merah. Weiss dan Coastillon sedang bermain dengan Quinns. Bautista, melakukan hal aneh yang sudah biasa ia lakukan.
Setelah menghabiskan beberapa hari beristirahat dan bersantai, Faraki memanggil para pilar untuk memberitahukan sebuah berita. Berita yang ia dapatkan, simpang siur dari mulut para pedagang.
'Terdapat kejadian aneh di pertambangan hafriaat timur,'
'Hasil tambang berubah ubah setelah digali, emas menjadi perak, perak menjadi timah, lalu hilang,'
'Perubahan yang terjadi tidak menentu, pasar pertambangan sedang mengalami krisis nilai jual.'
Para pilar paham jika hal ini patut dicurigai. Segala hal yang berbau dengan mistis, aneh, dan ajaib hanya dimiliki oleh para pilar. Dan bila kejadian ini terus berlanjut, tentu saja ada dalang dibaliknya. Dengan bekal yang dimiliki, tiga orang pergi untuk menginvestigasi pertambangan ini. Faraki, Weiss, dan Quinns. Tidak ada gunanya membawa banyak orang, karena jalur memasuki situs penggalian hanya terbuka untuk orang-orang khusus, dan tentu saja karena bahaya penggalian yang terbuka, batas orang yang masuk sangat dibatasi.
Untung saja, Faraki memiliki orang dalam yang dapat mengantar mereka bertiga memasuki pertambangan. Aneh, memang. Ada orang yang ingin menginvestigasi kejadian di pertambangan saja sudah mencurigakan.
Sesampainya didalam situs penggalian yang gelap, Quinns menyalakan api dari ranting kayu yang ia selipkan dirambutnya. Menelusuri gua tak pernah terasa se-mencekam ini. Bebatuan dari plafon atas berjatuhan setiap mereka melangkah, menambah suasana kematian yang dialami ketiga orang itu didalam sana.
Sebuah batu terjatuh ke bahu Weiss, tetapi yang memikat perhatiannya adalah, batu tersebut setelah bertemu dengan tanah berubah menjadi bongkahan berkilau. Berdasar penemuan ini seharusnya mereka semakin dekat kepada sumber sang 'perubahan hasil tambang'.
Quinns mengetuk batu besar didepannya yang menghalangi jalan, dan secara ajaib batu tersebut pecah beruntuhan. Setelah menyentuh tanah runtuhan batu tersebut berubah menjadi ribuan kilau.
Terlihat seorang pria tinggi yang sedang berbaring diatas emas besar, dengan rambut biru langit. Ekor emas, dan mata hijau yang melirik tiga orang didepannya.
"Took you long enough."
(Cukup lama.)
Sekali kilas, pakaian pria didepan mereka menandakan kalau ia salah satu dari pilar yang diturunkan. Tetapi, perilakunya yang pasif agresif membangunkan respons tidak nyaman dari pihak Quinns dan Faraki. Weiss menanyakan apakah dia dalang dari kasus pertambangan ini. Pria itu mengiyakan pernyataan Weiss. Ia menambahkan bahwa dalang dari inflasi dan deflasi pasar di kota yang megah ini jugalah dirinya. Tapi mengapa?
"Sooner or later, people will monopoly each other in search for profit,"
(Cepat atau lambat, orang akan memonopoli satu sama lain dalam mencari keuntungan,)
"When that happens, what even gods would do?"
(Ketika itu terjadi, apa yang bahkan para dewa dan dewi akan lakukan?)
Weiss terlihat bertanya-tanya akan perkataan pria tersebut. Meskipun begitu dua orang dewasa disampingnya terlihat mengerti dan meresapi apa yang dikatakan pria asing didepannya. Setelah berbincang sebentar mereka segera keluar dari situs pertambangan, dengan tambahan satu anggota untuk bergabung dalam pilar.
IV. Cawan Ular
Menghabiskan waktu di kota dan merayakan keluarga pilar yang semakin besar.
Faraki tidak dapat membayangkan perjalanannya sudah dekat menuju garis akhir. Tapi, apakah ini benar akhirnya? ataukah, awal dari suatu era baru? Pertanyaan ini mengkabungi pikiran Faraki berhari-hari. Satu lagi orang yang harus ia cari, dan pilar dunia sudah lengkap.
Tapi mengapa untuk pilar yang terakhir ini, Faraki merasa janggal. Seperti orang yang sudah pernah ia temui. Faraki mendapatkan firasat bahwa 'dia' tidak jauh maupun tidak dekat. 'Dia' adalah...
Dirinya sendiri?
Tidak..
Dia hidup didalam dirinya.
Itu benar. Semenjak ia mengembara Gaia, jiwa kedua didalam tubuhnya bertambah sadar. Pilar demi pilar yang ia temukan, 'dia' sedikit demi sedikit bangkit. Dan sekarang, mereka sudah bukan satu jiwa lagi. Melainkan dua jiwa yang berbeda.. dalam satu tubuh.
"The first and the last pillar is..."
(Pilar pertama dan pilar terakhir ialah...)
"Me?"
(Diriku?)
"But who is me when two souls are imbued?"
(Tapi siapakah diriku jika dua jiwa tertanam?)
"I am the last pillar, you're the first. Your body is my louvre."
(Akulah pilar terakhir, kau yang pertama. Badanmu adalah pintuku.)
Tertegun atas suara yang berdengung di telinganya, Faraki yakin tubuhnya ditinggali dua jiwa. Menerima keadaan, dengan langkah tegap dan pemikiran yang tetap, pria bersurai abu itu berjalan kearah para pilar yang sedang berkumpul.
"Come forth, pillars of world. For I, Faraki Fyodorov has announced the first meeting of The Pillars."
(Datanglah, pilar dunia. Karena aku, Faraki Fyodorov telah mengumumkan pertemuan pertama dari para pilar.)
"In the name of Gaia, the gods and goddesses, the godfather and godmother. Should we take an oath."
(Atas nama Gaia, dewa dan dewi, godfather dan godmother. Kita harus mendirikan sumpah.)
V. Iuramentum Columnarum
"We the pillars of world, bestowed by deities."
(Kami pilar dunia, diberkahi dewa dan dewi.)
"As we hold power, it shall not harm any beings."
(Secara kami memegang kekuatan, itu tidak akan membawa bahaya kepada makhluk apapun.)
"As what we were told, not to rebuilt paradise."
(Secara apa yang diberitahukan kepada kami, untuk tidak membangun kembali surga.)
"To strengthen the world, to heal the world,"
(Untuk memperkuat dunia, untuk menyembuhkan dunia,)
"To bring love to the world, to bring hate to the world,"
(Untuk membawa cinta ke dunia, untuk membawa benci ke dunia,)
"To feel ecstasy, to be rational,"
(Untuk merasakan ekstasi, untuk menjadi rasional,)
"To act, to think,"
(Untuk bertindak, untuk berpikir,)
"To gain the favor of nature, to gain the favor of civils,"
(Untuk mendapatkan kebaikan alam, untuk mendapatkan kebaikan manusia,)
"And the complicatedness of life itself is what we sought to rebuild."
(Dan kerumitan dari kehidupan itu sendiri yang kami cari untuk bangun kembali.)
"May this be an oath ad infinitum."
(Biarlah sumpah ini menjadi selamanya.)
VI. Aevum Columnarum
Era dimana para pilar asli masih hidup dan berpijak kaki di Gaia dinamakan 'Aevum Columnarum'. Era ini dihabiskan oleh para pilar untuk menyebarkan ajaran dan memandu manusia lain dalam berkehidupan. Mereka hidup untuk beberapa ratus tahun kemudian sebelum meninggalkan dunia dan keturunan mereka untuk masa selanjutnya.
VII. Deus ex Bellum
VIII. Deus Ex Machina
Mayoritas dari manusia meninggalkan keinginan mereka untuk menguasai dan mendapatkan kekuatan, memfokuskan diri pada paradoksal serta filosofi. Teknologi berkembang pesat, ditandakan oleh revolusi industri yang terjadi dalam frekuensi tinggi. Manusia berperang dingin dalam mengupas rahasia yang disimpan oleh semesta, menjadikan lapangan sains yang progresif. Ilmu, teknologi, dan informasi dijunjung tinggi diatas pedestal pada era ini. Era yang berlanjut, sampai sekarang.
END OF LOG
.png)